Antara Novel Dan Risetnya

Bismillah,

Apa yang teman-teman pikirkan setelah melihat sekilas judulnya? Semua penulis pasti tahu, kan, kalau alur cerita butuh riset? Itu yang akan saya bahas kali ini. Tidak banyak, hanya sekadar mengisi waktu luang teman-teman dan saya sendiri.

Terciptanya sebuah rentetan alur cerita adalah dengan segelintir inspirasi yang seakan muncul begitu saja di otak kita. Mungkin sebagian inspirasi tersebut akan langsung mengutarakan sebuah ide-ide yang akan naik tahap menjadi sebuah alur utuh. Tapi bisa saja sebagian lainnya akan tetap bertahan di otak dan mengendap menjadi sebuah ingatan entah itu ingatan baik atau buruk (hehe, itu pendapat teraneh saya).

Itu bisa saja terjadi. Pasalnya setelah kita benar-benar greget ingin membuat cepat-cepat sebuah cerita, tiba-tiba muncul pikiran lain yang memotong niat kita begitu saja. Begitu saja, ya, seperti pisau. Kan kesel? Jadi kita melupakan niat kita -- yang tadi sudah mantap -- untuk membuat cerita.

Nah, di sinilah kita butuh yang namanya riset. Mungkin riset sebegitu pentingnya sampai-sampai bisa berantakan kalau tidak pakai riset. Oke, jangan terlalu berkepanjangan. Riset yang kita perlukan tentunya harus sesuai dengan keinginan kita sendiri. Pokoknya harus ada yang namanya riset. Urusan risetnya mau ngarang atau faktual, sih, belakangan. Kalau saya pikir, sih, lebih gampang pakai riset yang faktual. Karena, selain bisa membuat cerita yang tidak ngasal, bisa juga menambah pengetahuan kita dengan membaca dari sumbernya.

Sedangkan dengan riset yang kita karang sendiri--memang betul bisa membuat kita lebih puas--namun, akan jadi lebih aneh nantinya kalau kita tidak pandai membuat karangan dengan baik dan benar.

Bisa saya simpulkan, riset begitu berarti untuk membuat cerita kita hidup. Kembali lagi kepada kesukaan teman-teman--mau pakai riset fiksi atau faktual. Yang jelas adalah, riset memudahkan segalanya. Kembali lagi kepada teman-teman--mau membaca sumbernya atau mau cari gampang? (mengarang sendiri). Tentukan jawabannya masing-masing di hati teman-teman.

Kalau ngga ngerti apa yang saya tulis, hanya ada satu kata, abaikan.

Sekian, terimakasih sudah membaca tulisan absurd saya^^

Salam anak Indonesia!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Teman Dan Cerpen Terbaik

Poetry